huh, sebenarnya aku tidak tau harus memulai dari mana tulisan ini, perasaan cemas, bingung dan gundah selalu menghantui. bahkan, aku tidak jelas tau pasti apa penyebab nya.
dan hari ini aku mencoba mencurahkan nya dalam tulisan kecil ini.
sempat berfikir tentang yang Namanya mati rasa, sekian tahun tanpa merasakan ketertarikan, sekian tahun merasakan kehampaan , sekian tahun tanpa aura yang berbunga bunga. dan pada saat itu aku berfikir sedang mati rasa. tidak jelas pasti apa yang mebuat rasa ini benar2 mati. tapi, satu pengaruh besar adalah tentang hilangnya rasa kepercayaan, penghianatan yang tak mampu ku lerai dan ku maklumi dalam hati ini.
3 tahun silam, ku beranikan diri untuk memulai sebuah ikatan pernikahan dengan keberanian besar, dengan tekad besar, dan perjuangan yang bisa di bilang tidak lasuh.
bermodalkan keberanian dan tekad aku merencanakan pernikahan itu dan entah dengan siapa. karena memang kehampaan hati kala itu sudah menjadi-jadi sebelum nya. teringat janji kepada sang mendiang, untuk menikah di tahun depan Ketika aku mengucapkan janji itu pada nya. pikiran kosong, rasa benci, rasa tidak percaya diri yang selalu menghambat pencarian ini.
dengan mendiang sang bapak, di tahun
2020 bulan mei kita intim bercerita. entah apa yang membuat tiba tiba pembicaraan itu kian hangat yang sebelum nya tidak pernah terjadi atau bahkan terfikirkan.
tapi mungkin hari itu adalah hari awal dimana seorang anak lelaki yang sangat-sangat jarang berbincang dengan bapak nya memulai kedekatan khalayak nya seorang bapak dan anak pada umum nya.
di tengah perbincangan, tiba tiba muncul satu kalimat yang dulunya ku kira hanya sebuah candaan. kapan kau menikah? apa yang kau tunggu? kau tau kami tidak akan lama lagi.
pertanyaan yang sangat horror tapi aku fikir hanya sebuah candaan kaprah dan aku menimpal nya dengan
sebuah candaan lagi.
tapi aku bisa baca dari expresi mendiang kala itu dia sedang tidak bercanda, dan raut wajah nya menanamkan harapan besar.
tidak ingin overthingking, aku mengalihkan topik pembicaraan walau akhirnya pembicaraan itu terasa menjadi dingin.
bulan dan tahun beralalu, semenjak kejadian itu saling tegur sapa mulai sering terjadi antara aku dan mendiang, candaan gurauan mulai hadir di tengah obrolan kami, tapi sembari menghindari pertanyaan pertanyaan horror lain nya aku selalu mengalihkan setiap pembicaraan, karena yang awal nya aku anggap sebuah lelucon kini menjadi mimpi buruk Ketika aku ingat itu.
manusia kuat, sehat dan salah satu orang yang sangat intens menjaga pola hidup sehat tiba2 di larikan kerumah sakit
tepat nya pada agustus 2021 mendiang mengalami seperti sesak nafas.
Ketika sampai di UGD, beliau di nyatakakan positive covid -19.
tidak tau berbuat apa, tidak tau berargumen apa, dan tidak tau harus mengadu sama siapa. mau tidak mau mendiang harus di masukkan ke ruang isolasi mandiri di tengah ketakuatan tentang c19 pada kala itu.
sembari pengurusan lain nya,aku tinggalkan jam kerja ku dengan menggunakan baju kerja ku aku beranikan diri untuk menembus pertahanan rumah sakit untuk ketemu beliau, pintu belakang rumah sakit adalah saksi dimana aku berlari tergesa- gesa demi bisa menyelinap menghampiri bapak sebelum benar-benar di bawa ke ruang isolasi mandiri.
tidak berlangsung lama, aku sampai di ruangan mendiang, dan mungkin pertama kali beliau ku peluk dan ku cium dengan rasa tangis yang tersedu-sedu,.
aku bilang, pak harus sembuh, pak bapak harus pulang kerumah, aku janji, aku janji, tahun depan aku nikah pak, tahun depan pesta kita.
iya nak ku, iya bapa, kau harus jadi besar dengan pakaian mu ini ya, kau harus jadi orang hebat dengan pekerjaan mu ini ya. itu adalah kalimat yang kian sulit dia ucapkan Karena harus dengan bantuan oksigen kala itu.
23 agustus, beliau pergi untuk selamanya, dan janji kala itu selalu menghantui diri ku di setiap hari nya.
pencarian demi pencarian aku lakukan, berharap semudah pada sinetron atau ftv. tapi nyatanya sulit dan teramat sulit.
pikiran hampa yang mengantarkan pada dialog yang ku mulai lagi setelah 2 tahun kurang lebih aku hentikan dengan sang mantan dan kita rencanakan untuk melaksanakan sebuah ikatan pernikahan
dan inilah awal dari cerita sebenarnya.
2022 di bulan may kita sepakat untuk tunangan, dan awal bulan 6 tahun itu kita mengikrar janji di depan gereja, sebenarnys sudah banyak tanda tanda untuk menghentikan rencana itu, tapi kita berfikir bahwa itu hanya Anca pra pernikahan, dan kita tidak hiraukan itu.
hari demi hari semenjak 3 bulan pernikahan, pertengkaran hebat mulai terjadi, kadang kita lupa apa penyebab nya, tapi setiap pertemuan menjadi seperti neraka kala itu.
dan singkat cerita kita memutuskan untuk benar-benar meng akhiri.
setelah kejadian itu, mati rasa ini kian menjadi jadi, tidak percaya diri, tidak berani, tidak ada ketertarikan sama sekali.
3 tahun berlalu, beberapa orang mencoba untuk memulai, tapi kehampaan itu selalu menghantui, bukan trauma, bukan takut, tapi memang rasa itu sangat sulit untuk muncul lagi
sampai Ketika, ada satu sosok yang membuat semua ego, keras kepala, dan kegundahan hati seperti luluh, bahkan Ketika dia tidak berbuat apa-apa.
energi yang mengalir kian deras menerpa bumantara .
hari demi hari kuberanikan diri untuk mencoba berkomunikasi, sulit di jangkau, sulit di gapai, tapi aku selalu minta pada tuhan untuk permudahkan itu semua,
entah angin apa, entah sugesti apa, komunikasi itu kian mengalir layak nya indurasmi di malam hari.
kalbu yang ku pikir sudah punah, perasaan yang ku fikir telah hirap. ternyata di bangunkan oleh sesosok Wanita cantik, baik dan mampu membuat diriku merasakan benar-benar tenang dan damai.
bunga-bunga yang telah punah mungkin 7 tahun lalu, kini aku rasakan lagi, rasa ingin bertemu, rasa ingi Bersama, seperti jaman kanak-kanak pada masa nya.
aku berfikir, tentang mati rasa bukan tentang Waktu, tapi tentang siapa yang di kirim Tuhan untuk mampu membangunkan mati rasa itu.
tulisan ini akan tetap berlanjut, jikalau Tuhan menghendaki Wanita ini untuk tetap Bersama ku

No comments:
Post a Comment