SAKRALISME DI BUKIT HOLBUNG SAMOSIR - Batak Traveler

Sunday, August 12, 2018

SAKRALISME DI BUKIT HOLBUNG SAMOSIR



Jenuh dengan cerita cerita puitis, kali ini aku ingin cerita tentang pengalaman ku menelusuri dolok holbung di Samosir, dan merupakan salah satu pengalaman menarik yang mungkin tak terlupakan seumur hidupku

Berawal dari kami pergi ke samosir dengan tujuan ingin Nge-camp di salah satu tempat yang memiliki spot menarik untuk di kunjungi , yaitu Holbung atau lebih tepatnya bukit holbung, orang-orang disini menyebutnya dengan dolok holbung, dan para instagramer ada yang menyebutnya bukit teletubis , di daerah Harian Boho

Sama seperti namanya, tempat ini sangat indah dan menawan, bak bukit yang di baluti karpet hijau nan mewah


Kami memulai perjalanan dari berastagi menggunakan sepeda motor, lengkap dengan peralatan ngecamp tentunya, di temani cuaca yang sangat bersahabat, cerah dan nyaman, kami mulai perjalanan kami sekitar pukul 9 pagi,

Sekitar 3 Jam perjalanan kami tiba di pelabuhan Tigaras, dan bersiap hendak menyeberang ke samosir, tepatnya pelabuhan simanindo , sekitar 20 menit tibalah kami di simanindo, berbekal google maps kami menelusuri samosir dengan tujuan ke desa harian boho

Sekitar satu jam perjalanan tanpa di sadari ternyata di depan kami sedang ada rajia, mau tidak mau harus berhenti dan menunjukkan surat2 kami, kebetulan kedua teman saya tidak memiliki surat2 yang lengkap, akhirnya harus kena tilang,


Tapi walau pun begitu, kami tidak putus asa kami tetap melanjutkan perjalanan kami, sekitaran setengah jam, akmi bertemu persimpangan, dan mulai bingung hendak kemana,
Akhirnya kami bertanya kepada warga sekitar, dan kebetulan ada anak sekolah yang ingin hendak ke arah sana, walau tidak sampai pada tujuan mungkin ini membantu menurut ku, akhirnya aku ajak dia naik sepeda motor ku untuk menunjukkan jalan sekalian dia pulang kerumah nya
Awal nya dia ragu, dia mengira kami orang jahat, akhirnya aku dekati dia dengan menggunakan Bahasa batak, dan dia pun memutuskan untuk ikut bersama kami, di perjalanan kami banyak bercerita tentang kehidupan di samosir, dan dia bercerita juga tentang keluarganya, yang paling aku ingat adalah dia memiliki 11 saudara, dan dia adalah anak paling besar, padahal dia baru kelas 6 SD, wow bayangkan cobak serapat apa mereka, hahah

Akhirnya tiba di kampung nya, dan dia turun dan dia menjelaskan jalan menuju ke bukit holbung, tidak berapa lama, akhirnya kami tiba di tujuan, di sambut gerimis tipis, sebelum kami mendaki, kami meletakkan peralatan kami, dan bertanya kepada warga untuk mencari makanan, karena sejak pagi tidak ada makan, keliling2 tempat akhirnya kami menemukan warung makan, tapi lauknya sudah habis , maklum juga sih, namanya udah sekitaran jam 4, tapi kami tetap makan dengan seadanya, dan kami juga membungkus nasi putih agar ada makanan untuk di atas nanti,


Sekitar pukul 5 kami pun mencoba naik menyusuri bukit holbung ditemani gerimis,,
Sebelum berangkat ke atas, sebenar nya pengelola sudah mengatakan, jika di puncak nanti bertemu mata air, silahkan cuci muka dan pamit, menurut ku, buat apa sih mikir dan ngelakuin hal ktu, kita kan udah modern, dan udah beragama, apa sih fungsinya, tapi kami mengiakan saja

Lalu kami naik saja di temani gerimis nan romantis

Sekitar beberapa jam kami sampai di puncak dan mulai mendirikan tenda kami, karena gerimis nya  mulai serius, setelah tenda kami berdiri, kami menghidupkan api guna menghangatkan badan kami, dan menyeduh kopi kami, karena hujan mulai deras, kami masuk ke tenda dan mengkonsumsi makanan seadanya,

Sekitar pukul 8 malam, kami baru sadar bahwa salah satu kunci kendaaraan kami tertinggal atau mungkin terjatuh, berusaha mengingat2 ternyata teman saya lupa mencabut kuncinya saat membuka jok sepeda motornya, karena khawatir akan kendaraan nya , dan juga karena belum terlalu percaya kepada orang2 sekitar, kami memutuskan untuk turun dan menempuh hujan, di temani penerangan yang sangat seadanya, tapi sebelum nya kunci2 kendaraan kami kumpulkan di satu tempat, dan saya lah yang memegang, karena dari semua saya orang yang paling tidak teledor, dan selalu was was, ciahhh, muji diri ceritanya ni…
Karena mungkin khawatir dan sudah panic, dalam hitungan 40 menit kami sampai di bawah, yang tadinya kami menempuh 2 Jam lebih untuk kepuncak. Akhirnya kami bertemu dengan penjaga kendaraan disana, tapi kami tidak melihat kendaraan teman kami, dan kami mulai panic, tetapi penjaga tempat itu menjelaskan bahwa kendaraan kami dalam keadaan aman, karena di pakai sebentar oleh penjaga satu nya lagi, yang ternyata masih kelas 5 SD, ternyata dia pergi menjemput peralatan sekolahnya, agar dia dapat berangkat langsung dari tempat dia berjaga malam

Selang berapalama kami pun ngobrol asik, dan menarik, seperti pada umum nya bahwa anak traveler itu orang yang sangat gampang bergaul, dan bermasyarakat dengan orang lain, sembari menyeduh kopi dan menyantap  snack sederhana, akmi bercerita banyak tentang samosir, dan berencana akan naik ke PUNCAK PUSUK BUHIT  di lain waktu,

Tidak terasa udah jam 11, kami pun pamit untuk naik ke tenda kami, karena hujan lumayan deras, si penjaga kendaraan pun menawarkan kami untuk tidur dan istrahat di bawah saja, agar kita pagi2 subuh besok naik katanya, tapi kami tidak hiraukan lagi, dalam pikiran kami, buat apa jauh2 , dan udah bawa tenda, tapi tidak tidur di dalam tenda,

Akhirnya kami naik lagi, sekitar 70 persen dari perjalanan ada sesuatu yang aneh , padahal saya selalu was was dan meraba dompet saya setiap 1 menit, tapi pada rogohan selanjutnya, saya merasa bahwa dompet saya tidak ada, padahal 1 menit sebelum nya masih ada, ternyata memang benar dompet saya sudah tidak ada, lalu saya memberitahukan kepada yang lain dan kami pun mencari di sekeliling kami, aneh nya sudah berkali2 kami bolak balik ke tempat kami melintas tadi tetapi tidak juga ada,  kami balik lagi k epos penjagaan memastikan di jalan yang  kami lintasi tadi, tetapi hasilnya nihil, panic semakin panic, karena didalam berisi tentang surat2 berharga, seperti ktp, sim, stnk, dan lain2 kami juga meminta bantuan kepada penjaga tadi, untuk ikut serta membantu

Sekitar 3 jam kami mencari kami memutuskan untuk berhenti, dan berniat melanjutkan nya esok pagi,  karena awan sudah mulai turun dan menutupi jarak pandang kami, dengan perasaan cemas dan tidak tenang, kami pun bersitirahat,

Sekitar jam 5 pagi, kami bangun dan mempersiapkan sarapan agar stamina kami setidaknya berisi sedikit, dan kami melanjutkan pencarian, berjam2 kami cari tetap juga hasilnya nihil,

Sampai pada ketika aku bertemu dengan mata air aku langsung teringan dengan apa yang di maksud bapak penjaga semalam,
Tanpa piker panjang langsung ku basuh wajah ku dengan air nya, dan mengatakan, tunjukkan dompetnya oppung , kelihatan konyol memang tapi gak ada salah nya mencoba pikirku

10 menit dari aku mencuci muka, tiba2 salah seorang teman saya berteriakk, ini dompetnya katanya,….

Dengan perasaan senang aku langsung menghampiri, dan berteriak sekencang2 nya, pertanda bahagianya diriku mendapatkan dompet itu kembali,

 tapi.. yang aneh nya tempat dompet itu jatuh sama sekali tidak di rute yang kami jalani, bahkan sangat jauh dari tempat kami berada,

karena sudah mulai tenang, kami pun mulai berfoto2 ria, tapi dengan waktu yang sesingkat mungkin, karena mengejar waktu pulang lagi,,
 beberapa menit kami berfoto akhirnya kami harus mengemas barang dan perlengkapan kami









kami turun dan kami pun menceritakan tentang bagaimana dapatnya dompet itu,

kesimpulan yang kami ambil. Walau kita sudah modern, walau kita sudah memliki agama, tetapi tetap percaya bahwa supranatural dunia lain itu memang ada,

walau begitu kejadian nya, kami tidak jera main2 kesini, kami tidak bakal ampun kemari, tapi satu hal yang kami dapat,  dan kami harus perbaiki untuk kedepan nya

terima kasih telah membaca




No comments:

Post a Comment